Minggu, 25 Juli 2010 | 22:38:21 PENDERITA HIV/AIDS DI GUNUNG KIDUL TERUS MENINGKATformatnews - Yogyakarta, 25/7: Jumlah penderita HIV/AIDS di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, terus meningkat dari tahun ke tahun, kata anggota Kelompok Dampingan Sebaya Kendari Gunung Kidul Sukma Heppy."Pada 2008 ada sembilan orang, 2009 sebanyak 35 penderita, dan 2010 sampai Mei sebanyak 66 orang," katanya, di sela sosialisasi penanggulangan HIV/AIDS di Kecamatan Ponjong, Gunung Kidul, Minggu. Menurut dia, peningkatan tersebut antara lain karena kurangnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang penyakit itu. Ia mengatakan dari 66 penderita HIV/AIDS di Gunung Kidul pada 2010 sampai Mei, enam orang di antaranya meninggal dunia. Pihaknya juga mencatat sedikitnya lima ibu rumah tangga di kabupaten ini dalam dua tahun terakhir mengidap HIV yang ditularkan suaminya. Menurut Sukma Heppy, dipilihnya Kecamatan Ponjong sebagai tempat sosialisasi penanggulangan HIV/AIDS, karena di daerah ini ada kasus baru penderita penyakit tersebut yang menimpa satu keluarga. "Bahkan, salah satu anggota keluarga itu sudah meninggal dunia akibat penyakit itu pada Mei 2010," katanya. Ia mengatakan sosialisasi ini juga dimaksudkan untuk memberikan informasi yang lengkap dan benar kepada masyarakat agar takut serta tidak salah menilai terhadap status orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Sukma mengatakan masyarakat selama ini masih menganggap HIV/AIDS hanya menyerang orang dengan profesi atau pekerjaan tertentu, seperti pekerja seks komersial (PSK). "Padahal anggapan tersebut keliru, karena HIV/AIDS bisa menular kepada siapa saja," katanya. Saat ini, kata dia, HIV/AIDS lebih banyak menyerang orang yang memakai narkoba suntik, yakni penularannya melalui penggunaan jarum suntik yang tidak steril. "HIV/AIDS juga mudah menular pada orang yang sering berganti-ganti pasangan dalam melakukan hubungan seksual," katanya. Menurut dia, bahkan perempuan yang memiliki orientasi heteroseksual (berganti-ganti pasangan) lebih rentan terinveksi HIV. "Ini akibat perilaku seks tidak aman dari pasangannya, baik suaminya, atau bukan," katanya. Sukma berharap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunung Kidul lebih memperhatikan mengenai jaminan sosial bagi warganya yang mengidap HIV/AIDS. "Pemkab seharusnya tidak membeda-bedakan layanan kesehatan antara pengidap HIV/AIDS dengan penderita penyakit lainnya, sehingga tidak akan ada lagi kasus dimana penderita HIV/AIDS ditolak ketika mau berobat ke rumah sakit," katanya. Menurut dia, saat ini belum ada jaminan sosial dari pemerintah bagi penderita HIV/AIDS, sehingga sering dijumpai ketika ada salah satu warga masyarakat yang mengidap penyakit ini hak-hak sosialnya dibedakan. *ant* |
